Wednesday, October 22, 2014

Pluralisme, Lintas Budaya Trip Observasi, dan Kurikulum 2013



Isu sesintif yang dapat menimbulkan konflik horizontal di Indonesia salah satunya adalah isu gesekan antar suku, budaya, dan agama. Masih ingat di benak kita betapa komplik antar suku melahirkan konflik yang berkepanjangan, seperti peristiwa Sampit, peristiwa Maluku dan seterusnya.  Kemajemukan nusantara memang di sisi lain menjadi nilai tambah bagi bangsa kita, namun jika kemajemukan itu tidak disadari dan dikelola dengan baik, maka akibatnya sudah bisa kita rasakan. Kemajemukan itu harus diberitahukan dan “dibumikan” kepada kalangan remaja khususnya para peserta didik.
Sedari dini mereka harus menyadari bahwa kemajemukan bangsa kita begitu kuat. Ratusan suku dengan berbagai budayanya hidup di wilayah nusantara kita ini. Memang tidak dapat dipastikan berapa persisnya jumlah suku Indonesia, namun berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah suku di Indonesia sebanyak 1.128 suku. Berdasarkan fakta tersebut maka pluralisme di Indonesia merupakan suatu kenistayaan. Tidak bisa ditolak dan di acuhkan.
Pertanyaan yang muncul dalam benak kita, apakah kita kenal atau bahkan memahami setiap suku bangsa Indonesia ini. Berapa banyak dari kita misalkan, mengenal tradisi budaya yang ada di Indonesia. Kalau demikian Jangan lagi kita bicara tentang pelestariannya. Namun sesungguhnya para founding father kita sudah menyadari sejak dahulu. Munculnya Bhinneka Tunggal Ika menunjukkan bahwa bangsa kita memiliki kemajemukkan yang harus diikat menjadi satu kesatuan.
Sejauh mana sekarang ini nilai ke-bhinnekatunggal ika-an itu tertanam dalam pemikiran dan perilaku peserta didik kita saat ini? Dalam skala kecil kita mungkin dapat bertanya kepada peserta didik, mengenai salah satu adat  yang ada pada suku bangsa kita. Jawabannya yang mungkin kita temukan adalah banyak yang tidak tahu.
Sementara “serangan” budaya asing dengan berbagai media saat ini juga begitu kuat, yang menambah problem di tengah-tengah kemajemukan budaya Indonesia. Boleh dibilang sangatlah sulit kita membendung masuknya budaya asing dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya pada kalangan peserta didik.  Tanpa disadari budaya asing itu telah menjadi bagian dari perilaku kehidupan pada kalangan muda kita. Bukan berarti kita anti terhadap budaya asing yang masuk, namun jati diri bangsa janganlah menjadi nomor sekian. Lalu upaya apa yang harus dilakukan oleh kita, khususnya dunia pendidikan Indonesia? Lebih tajam lagi proses pendidikan di sekolah?
Menanggapi fenomena tersebut, pemerintah Indonesia telah berusaha merespon dengan serius. Hal itu terlihat saat pemerintah memasukan muatan lokal pada kurikulum tingkat satuan pendidikan tahun 2006. Kemudian ditambah lagi dengan pendidikan karakter. Sampai kurikulum 2013 saat ini pemerintah boleh dikatakan masih tetap concern  terhadap permasalahan tersebut. Lalu bagaimana implementasinya di sekolah?
Sekolah tentunya diharapkan mampu memberikan proses pembelajaran kepada peserta didik yang di dalamnya memuat penanaman nilai-nilai budaya bangsa secara kreatif. Artinya bahwa, proses pembelajaran tersebut tidak selalu berada di ruang kelas. Seperti yang dilakukan oleh SMA Labschool yang mengadakan kegiatan Trip Observasi, yang di dalamnya terdapat kegiatan lintas budaya. Lintas budaya adalah suatu kegiatan yang menampilkan berbagai budaya Indonesia yang dikemas dengan model peragaan busana. Namun bukan hanya mereka menggunakan busana dari daerah tertentu saja, mereka juga harus mengusai budaya yang ada pada daerah tersebut. Karena mereka akan ditanya oleh juri untuk mengetahui sejauh mana mereka menguasai budaya, adat istiadat atau kondisi daerah bersangkutan.
Dalam konteks kurikulum 2013 kegiatan  tersebut sangat pas diterapkan. Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik; mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan memberikan kesempatan kepada guru dan peserta didik berinteraksi.
Proses kegiatan lintas budaya dengan pendekatan saintifik ini dimulai dengan peserta didik mengamati budaya yang ada di Indonesia sesuai busana yang akan digunakan. Proses mengamati tersebut dilakukan melalui membaca di berbagai buku referensi, atau mencari di internet. Setelah itu mereka bertanya terhadap budaya atau kondisi daerah yang tidak diketahui, mereka bertanya ke berbagai pihak termasuk kepada orang tua, kakak OSIS atau pun kepada guru. Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk mengumpulkan informasi yang lebih lengkap dengan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Informasi yang telah dikumpulkan kemudian dibuat suatu kesimpulan mengenai daerah yang bersangkutan. Selanjutnya pada saat kegiatan lintas budaya mereka harus mengkomunikasikan kepada peserta Trip Observasi khususnya kepada dewan juri. Proses mengkomunikasikan itu mereka lakukan dengan berbagai gaya bahkan dengan logat daerah tersebut. Dewan juri dalam hal ini para guru akan bertanya sejauh mana mereka menguasai pengetahuan terhadap daerah yang bersangkutan.
Pada akhirnya peserta didik akan menemukan sendiri pengetahuan yang sebelumnya mungkin belum diketahui. Dalam konteks kurikulum 2013, hal ini dinamakan model pembelajaran inquiry. Ketika mereka sudah mengetahui lebih jauh lagi mengenai berbagai budaya bangsa tersebut, maka diharapkan mereka juga memahami bahwa pluralisme yang ada di Indonesia, dan pada akhirnya melahirkan sikap kebangsaan dan nasionalisme yang tinggi. 

Tuesday, April 22, 2014

Neraca Pembayaran Internasional

Untuk memahami tentang neraca pembayaran internasional, simak video di bawah ini



Bagaimana Perdagangan di Bursa Saham
Simak video di bawah ini

 

Kalau belum mengerti simak video lainnya lagi





Thursday, March 21, 2013

Mempertanyakan TIK tidak ada dalam Kurikulum 2013



Dalam struktur kurikulum 2013 yang dirilis oleh pihak Kemendikbud secara eksplisit matapelajaran TIK tidak ada. Pertanyaannya kenapa?
Jika merujuk ke berbagai literatur, teknologi informasi dan komunikasi merupakan bagian dari kemajuan peradaban abad 21 ini. Salah satunya, Menurut Eric Ashby (1972) seperti dikutip oleh Miarso (2004),  terdapat 5 revolusi dalam dunia pendidikan. Revolusi pertama terjadi ketika orang menyerahkan pendidikan anaknya kepada seorang guru. Revolusi kedua terjadi ketika digunakannya tulisan untuk keperluan pembelajaran. Revolusi ketiga terjadi seiring dengan ditemukannya mesin cetak sehingga materi pembelajaran dapat disajikan melalui media cetak. Revolusi keempat terjadi ketika digunakannya perangkat elektronik seperti radio dan televisi untuk pemerataan dan perluasan pendidikan. Saat ini sudah memasuki Revolusi kelima, dengan dimanfaatkannya teknologi komunikasi dan informasi mutakhir,khususnya komputer dan internet untuk pendidikan. Revolusi ini memberi dampak terhadap beberapa kecenderungan pendidikan masa depan.
Oleh karena itu jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya teknologi informasi dan komunikasi tersebut telah menjadi bagian yang seharusnya tidak terpisahkan bagi dunia pendidikan. Bahkan sekarang terdapat istilah bukan hanya memberantas buta huruf tapi berantas buta teknologi.
Hal ini diperkuat lagi dengan pernyataan bahwa kemampuan dasar yang harus dimiliki dalam abad 21 seperti dikutip dalam The Premier’s Technology  Council (PTC) sebagai berikut;
  • Functional Numeracy and Literacy
  • Critical Thinking and Problem Solving
  • Creativity and Innovation
  • Technological Literacy
  • Communications and Media Literacy
  • Collaboration and Teamwork
  • Personal Organisation
  • Motivation, Self-Regulation and Adaptability
  • Ethics, Civic Responsibility, Cross-Cultural Awareness

Terlihat jelas, bahwa kemampuan teknologi merupakan bagian tersendiri yang harus diperkuat, tidak bisa digabung dengan materi yang lain. Dengan memiliki kemampuan TIK peserta didik dapat mengaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat yang nota bene hidup dalam lingkungan TIK.
Lalu sekali lagi kenapa dalam struktur kurikulum 2013 ini pemerintah berniat untuk meniadakan matapelajaran TIK? Mari kita coba menjawabnya (berdasarkan berbagai informasi yang diterima)
Alasan yang sempat muncul adalah masih banyak sekolah yang tidak mempunyai sarana dan prasarana bahkan belum ada listrik. Lalu apakah hal tersebut dapat dijadikan argumentasi yang kuat untuk meniadakan matapelajaran TIK? Hemat saya, alasan tersebut kuranglah bijaksana, alasan tersebut dapat dibalik dengan sebuah pertanyaan bagaimana sekolah-sekolah yang sudah mempunyai laboratorium komputer lengkap? Kita tahu sudah banyak sekolah-sekolah yang mempunyai laboratorium lengkap, baik di kota maupun di desa.
Nah, kalau tidak ada listrik, ya… pemerintah harus berusaha mengadakan listrik. Toh PLN saat ini sudah terus menambah jangkauan listrik untuk bisa dinikmati masyarakat Indonesia. Pak Dahlan sendiri pernah mengatakan bahwa PLN terus meningkatkan targetnya menjangkau masyarakat seluruh Indonesia.
Dan lagi, kalau pun masih ada sekolah yang belum memiliki prasarana laboratorium komputer, bukan berarti sekolah lainnya harus menurunkan levelnya untuk mengikuti sekolah tersebut. Seharusnya yang terjadi malah, sekolah yang belum memiliki laboratorium harus terus di upgrade.
Pemerintah memang sudah sepatutnya bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana di sekolah sebagai diamanatkan oleh Undang-undang. Karena memang sekali lagi bahwa perkembangan dan kemajuan zaman saat ini dan kedepannya membutuhkan keterampilan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi.
Kalau matapelajaran TIK digabung dengan matapelajaran lain, maka yang terjadi adalah TIK bukan menjadi keterampilan yang secara khusus dipersiapkan oleh pemerintah untuk mengikuti kemajuan zaman. Kemampuan TIK tidak dapat fokus diajarkan kepada peserta didik. Akibatnya peserta didik tidak dapat meningkatkan kemampuan TIK secara baik dan tepat. Walaupun memang mereka dapat belajar sendiri. Namun tentunya akan perbedaan antara belajar sendiri dengan belajar dengan terstruktur. Dengan terstruktur peserta didik dapat memahami secara tepat dan terarah. Peserta didik juga dapat diarahkan untuk mengikuti perkembangan dan kemajuan TIK terkini.
Lalu kalau guru TIK akan dialihfungsikan kepada bidang lain. Pertanyaannya adalah bidang apa? Lalu apakah efektif pindah ke bidang lain walaupun akan dilatih selama 2 tahun?
Intinya, secara fakta dan argumentasi teoritis sudah seharusnya matapelajaran TIK tetap ada dalam kurikulum 2013 ini. Semoga pemerintah dapat mempertimbangkan dengan lebih bijaksana. Kepada guru TIK seluruh Indonesia ayo berikan kajian dan masukkannya kepada pemerintah agar pemerintah dapat mempertimbangkan untuk yang terbaik bagi semuanya.

Friday, November 18, 2011

Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi

Tulisan ini merupakan resume singkat dari buku yang ditulis oleh Ibu Conny R. Semiawan, seorang tokoh pendidikan, mantan Rektor IKIP Jakarta. Buku tersebut berjudul Pengembangan Kurikulum berdiferensiansi. Saat ini penulis tengah menjadi peserta training of trainers yang diadakan oleh Labschool.
Dalam pengembangan kurikulum berdiferensiasi tersebut terdiri dari 4 komponen dan 4 matra. Yang akan dituliskan di bawah ini.
Komponen Pertama
(1)    Materi  pengalaman belajar yang menumbuhkan kreativitas harus diplih untuk digemukkan dan dipadatkan berdasarkan seleksi materi yang memperhatikan tempo, kesesuaian, kecepatan belajar, kecenderungan peserta didik, serta proses menjalankannya. Seringkali guru memberikan pembelajaran tanpa memperhatikan karakteristik peserta didik, khususnya karakter anak-anak berbakat dalam hal ini anak akselerasi. Oleh karena itu dalam pengembangan kurikulum ini perserta didik harus benar-benar diperhatikan sebagai subjek belajar yang potensial
(2)    Assesment harus memberi gambaran tentang profile kemampuan dan kelemahan peserta didik secara menyeluruh, mencakup kemampuan intelektual maupun sifat-sifat kepribadian seseorang. Berbagai bentuk penilaian yang ada perlu dilakukan
Komponen Kedua
Terdiri dari 4 tingkatan;
(1)    Pengalaman belajar baru yang diperluas dan/atau diperdalam akan bermakna dalam kaitan dengan sistem tertentu yang hidup dalam masyarakat yang diperoleh dari kurikulum umum dan harus disaturagakan untuk diserap juga oleh anak-anak berbakat. Pengalaman tersebut harus tetap terbuka untuk memberi peluang terhadap pertumbuhan kreativitas melalui materi yang didiferensiasikan.
(2)    Pola pilihan materi memperlihatkan kesamaan dan perbedaan dengan kurikulum yang umum berlaku
(3)    Tingkat ketiga menunjuk pada perencanaan serta persiapan struktur kurikulum tertentu dan suasana yang kondusif untuk belajar kreatif dalam kaitan dengan perilaku anak yang menjadi sasaran khusus di dalam Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi.
(4)    Menunjukkan pada strategi pembelajarannya, karena keseluruhan ciri-ciri anak berbakat berbeda dari satu anak dengan anak lainnya, serta merupakan integrasi dan penorobosan (interpenetrasi) yang mendalam dari ranah afektif, kognitif dan psikomotor. Memperlihatkan pula kepekaanya terhadap berbagai masalah kehidupan yang bersumber dari kesadaran yang digali dari ketidaksadarannya.
Komponen ketiga
Sekumpulan ilmu pengetahuan yang diperoleh tanpa kemampuan peserta didik yang bersangkutan untuk dikelolanya akan merupakan pengetahuan sesaat yang akan mencapai sasaran buntu (Semiawan, C.R. dkk., 1987)
Oleh karena itu, penilaian dan program belajar dalam kaitan dengan tujuannya bersifat ganda, bukan saja yang dinilai hasil belajarnya, tetapi juga proses belajarnya, bahkan juga bahwa penilaian harus didasarkan pada substansi materi perolehannya dan dampak pengiring perolehannya.
Komponen Keempat
Komponen ini bersifat teknis dan berkenaan dengan persiapan kongkret proses pembelajaran, komposisi guru, pendekatan apa yang digunakan dan fasilitas apa yang tersedia.

Matra Kurikulum Didifirensiasikan
1.       Matra umum
Pengembangan kurikulum pada hakikatnya bertitik tolak pada beberapa ciri yang dilandasi oleh penemuan tentang kekuatan dan kelemahan kurikulum umum dan karenanya kurikulum berdiferensiasi bagi anak berbakat bertitik tolak dari kurikulum umum. Oleh karena itu diseleksi materi-materi yang esensial dari kurikulum umum tersebut.
2.       Matra yang Didifirensiasikan
Matra dari kurikulum berdifensiasi yang kedua ini berkaitan erat dengan ciri khas perkembangan anak berbakat dan merupakan kurikulum yang dikembangkan secara mendalam dan meluas
Kurikulum berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak berbakat dalam menguasai berbagai kemampuan dan kinerja, memberikan kekayaan pengalaman belajar yang berbeda dalam arti kedalaman, atau dalam arti keluasan dan kecepatan.
Sehingga pada anak berbakat akan terjadi kemungkinan loncat kelas. Inilah yang saat ini kami lakukan di Labschool dengan program layanan yang dinamakan Akselerasi.
3.       Matra Subliminal
Matra ini mengandung pengalaman belajar yang terdiri dari interaksi individual antara teman sebaya. Dalam tercipta suasana belajar yang kondusif. Suasana belajar yang kondusif tercipta ketika suasana yang dapat mengundang, melibatkan anak dalam pembelajaran yang mengasyikkan dan banyak yang ditentukan oleh komunikasi dua arah antara pendidik dan peserta didik, tetapi juga banyak bergantung pada personel lainnya, yaitu mereka yang dapat menunjang suasana belajar ini, seperti kepala sekolah, para orang tua dan personel penunjang pendidikan lainnya seperti staf adminitrasi dan lainnya.
4.       Matra Non-Akademis
Matra ini sangat erat kaitannya dengan strategi pembelajaran di sekolah maupun diluar sekolah Artinya kegiatan di luar sekolah dapat menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah. Seperti museum, Bursa efek Indonesia dan lainnya.

Implementasi
Berdasarkan pemikiran Ibu Conny tersebut maka iplementasi di sekolah yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:

1.       Sekolah harus mampu menganalisis kurikulum umum yang ada dalam hal ini Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Analisis yang dilakukan adalah materi-materi yang ada dalam Standar Komptensi dan Kompotensi Dasar. Materi-materi tersebut dipilah-pilah menjadi materi yang paling esensi bagi anak berbakat.
2.       Materi yang telah dipilah dan dipilih tadi kemudian dibuat lebih dalam lagi. Dengan berbagai sumber dan kreatifitas serta inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak berbakat. Termasuk di dalamnya adalah bentuk penilaian dalam kurikulum berdiferensiasi. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan bentuk workshop
3.       Setelah para guru menganalisis dan mendalam kurikulum tersebut maka pihak sekolah mengkompilasikan dan menjadikan kurikulum tersebut kurikulum untuk anak berbakat dalam hal ini adalah untuk program akselerasi.



Tuesday, November 15, 2011

Mampukah kita melawan (produk) China?


Salah satu Negara/bangsa dalam dua dekade ini yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kinerja perekonomiannya adalah China. Penulis ingat saat masih kecil menjelang remaja, menonton sebuah berita di televisi, banyak rakyat China mengalami kelaparan dan kemiskinan. Itu sekitar 20 tahunan lalu.
Namun saat ini China menjadi Negara yang memunyai kekuatan perekonomian yang demikian hebat. Pendapatan domestic bruto mereka naik begitu tajam, diikuti dengan pendapatan perkapita. Nilai ekspor mereka sekali tiga uang, terus meroket. Pada tahun 2009 saja nilai nominal produk domestik bruto atau PDB, salah satu indikator perkembangan ekonomi, mencapai 4,9 triliun dollar AS. Jepang yang saat ini masih tercatat sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah AS mencatat nilai PDB 2009 sebesar 5,1 triliun dollar AS. Sementara PDB AS 14,2 triliun dollar AS dan PDB negara yang tergabung dalam Uni Eropa sebesar 16 triliun dollar AS.
Salah satu tujuan ekspor produk China tentunya Indonesia. Ditambah lagi adanya perjanjian perdagangan ASEAN-China Free trade Area (ACFTA). Dan.. Indonesia telah masuk kedalam ACFTA tersebut.
Membanjirnya produk buatan China memang berdampak terhadap industri lokal. Sudah bukan rahasia umum lagi ketika produk tekstil China membanjiri pasar Tanah Abang, banyak produsen tekstil kita, khususnya di daerah Jawa  gulung tikar. Belum lagi produk-produk elektronik yang terus masuk ke Indonesia. Sepertinya saat ini ekspansi produk China sudah tidak dibendung lagi.
Lalu pertanyaannya adalah mampukah kita menyaingi (baca: melawan) produk China tersebut?
Pertanyaannya tersebut kita bisa jawab dengan sebuah pertanyaan pula; Apa yang tidak ada di Indonesia?
Bicara sumber daya alam, maka Indonesia merupakan salah satu negara yang paling kaya di dunia. Namun sayangnya sumber daya alam tersebut diekplorasi sedemikian rupa untuk kepentingan pribadi dan golongan. Menurut Adam Smit kalau suatu negara hanya mengharapkan sumber daya alamnya untuk di kuras maka dapat berakibat buruk kepada negara tersebut.
Bicara sumber daya manusia, sepertinya kita juga harus mengatakan potensi orang Indonesia sebenarnya sangat baik. Walaupun dalam berbagai survei mengenai indeks sumber daya manusia kita selalu berada diperingkat seratusan. Tapi kita juga tidak dapat menampikan bahwa berapa medali yang kita dapatkan dalam setiap perlombaan olimpiade Internasional. Jadi sumber daya manusia kita sebenarnya berpotensi besar.
Bicara pasar, kita adalah pasar yang profitable. Pasar dengan jumlah konsumen yang besar dan berpotensi untuk mendapatkan keuntungan.
Lalu bagaimana mengenai kualitas produk lokal kita? Memangnya produk China juga berkualitas? Belum tentu.
Keberhasilan China dalam perekonomian menurut kompas dalam laporan wartawannya, setidaknya ada tiga yaitu Pertama, visi dan perencanaan pembangunan jangka panjang yang solid melalui program rencana pembangunan lima tahun yang berkesinambungan. Kedua, menerapkan strategi pengembangan pengetahuan dasar. Ketiga, adanya birokrasi yang kuat dan efektif yang dimotori oleh Partai Komunis China (PKC) sebagai partai yang berkuasa. Satu lagi menurut saya adalah kepastian hukum dalam menjaga perilaku warganya, khususnya pejabat. Sehingga seorang pejabat benar-benar pekerja untuk kepentingan rakyatnya. Mereka tidak berani melakukan tindakan korupsi. Kita sama-sama sudah tahu bahwa di China banyak sekali pejabat yang dihukum mati karena kasus korupsi. Bagaimana dengan Indonesia?
Lalu dengan demikian, optimiskah kita dengan apa yang ada untuk mampu bersaing dengan China atau bahkan dengan negara-negara maju lainnya.
Jawabanya adalah OPTIMIS dengan berbagai syarat tentunya.
Pertama. Dari sisi kualitas sumber manusia. Berikan kesempatan dan dana untuk para pemuda-pemuda yang cerdas untuk mengaktualisasikan dirinya. Tanamkan pula nilai-nilai yang luhur kepada para pemuda untuk dapat menjadi panduan hidupnya dalam berkarya. Implementasi adalah pada dunia pendidikan. Dalam jangka pendek, kita harus menyediakan dana riset kepada orang-orang Indonesia yang berpotensi dan memproduksinya dalam skala massal. Untuk jangka panjang kita harus menyiapkan beasiswa dan menjamin mereka untuk bisa mengabdikan dirinya bagi bangsa. Tentunya kita terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan kita yang mampu memberikan kepada peserta didik ruang untuk kreatifitas dan inovatif.
Kedua. Berikan insentif kepada para pengusaha lokal, khususnya yang berorientasi ekspor. Insentif tersebut dapat berupa pengurangan pajak atau pemberian subsidi. Pastikan juga bahwa mereka tidak dipungut biaya untuk keperluan yang tidak jelas, seperti pungutan biaya angkut atau untuk keperluan politik. Karena hal ini akan membebankan harga produk mereka yang berujung mahalnya produk lokal. Kita harus mengurangi hight cost economy pada setiap unit usaha kita.
Ketiga, debirokratisasi. Sudah bukan hal yang rahasia lagi, bahwa birokrasi kita sangat tidak efisien. Untuk mengurus suatu izin usaha saja kita membutuhkan waktu berbulan-bulan, sementara di China hanya hitungan minggu bahkan hari. Instansi yang harus dilewati pun begitu banyak, dan harus mengeluarkan biaya ini dan itu. Kita harus merevolusi birokrat kita agar benar-benar birokrasi tersebut tidak menghambat perekonomian.
Keempat, pastikan bahwa hukum ditegakkan. Saat ini ilmu ekonomi tidak berjalan sendiri, untuk mengatasi masalah ekonomi dibutuhkan faktor lain yang mendukung. Salah satunya adalah ilmu hukum. Kepastian dan penegakan hukum membuat nyaman para pengusaha khususnya pengusaha dalam negeri. Hukum bukan milik orang perorang atau golongan saja hukum adalah milik semua. Jika ada para pejabat atau pengusaha yang melanggar hukum, maka penegak keadilan harus benar-benar objektif dan adil menghukumnya.