Friday, November 18, 2011

Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi

Tulisan ini merupakan resume singkat dari buku yang ditulis oleh Ibu Conny R. Semiawan, seorang tokoh pendidikan, mantan Rektor IKIP Jakarta. Buku tersebut berjudul Pengembangan Kurikulum berdiferensiansi. Saat ini penulis tengah menjadi peserta training of trainers yang diadakan oleh Labschool.
Dalam pengembangan kurikulum berdiferensiasi tersebut terdiri dari 4 komponen dan 4 matra. Yang akan dituliskan di bawah ini.
Komponen Pertama
(1)    Materi  pengalaman belajar yang menumbuhkan kreativitas harus diplih untuk digemukkan dan dipadatkan berdasarkan seleksi materi yang memperhatikan tempo, kesesuaian, kecepatan belajar, kecenderungan peserta didik, serta proses menjalankannya. Seringkali guru memberikan pembelajaran tanpa memperhatikan karakteristik peserta didik, khususnya karakter anak-anak berbakat dalam hal ini anak akselerasi. Oleh karena itu dalam pengembangan kurikulum ini perserta didik harus benar-benar diperhatikan sebagai subjek belajar yang potensial
(2)    Assesment harus memberi gambaran tentang profile kemampuan dan kelemahan peserta didik secara menyeluruh, mencakup kemampuan intelektual maupun sifat-sifat kepribadian seseorang. Berbagai bentuk penilaian yang ada perlu dilakukan
Komponen Kedua
Terdiri dari 4 tingkatan;
(1)    Pengalaman belajar baru yang diperluas dan/atau diperdalam akan bermakna dalam kaitan dengan sistem tertentu yang hidup dalam masyarakat yang diperoleh dari kurikulum umum dan harus disaturagakan untuk diserap juga oleh anak-anak berbakat. Pengalaman tersebut harus tetap terbuka untuk memberi peluang terhadap pertumbuhan kreativitas melalui materi yang didiferensiasikan.
(2)    Pola pilihan materi memperlihatkan kesamaan dan perbedaan dengan kurikulum yang umum berlaku
(3)    Tingkat ketiga menunjuk pada perencanaan serta persiapan struktur kurikulum tertentu dan suasana yang kondusif untuk belajar kreatif dalam kaitan dengan perilaku anak yang menjadi sasaran khusus di dalam Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi.
(4)    Menunjukkan pada strategi pembelajarannya, karena keseluruhan ciri-ciri anak berbakat berbeda dari satu anak dengan anak lainnya, serta merupakan integrasi dan penorobosan (interpenetrasi) yang mendalam dari ranah afektif, kognitif dan psikomotor. Memperlihatkan pula kepekaanya terhadap berbagai masalah kehidupan yang bersumber dari kesadaran yang digali dari ketidaksadarannya.
Komponen ketiga
Sekumpulan ilmu pengetahuan yang diperoleh tanpa kemampuan peserta didik yang bersangkutan untuk dikelolanya akan merupakan pengetahuan sesaat yang akan mencapai sasaran buntu (Semiawan, C.R. dkk., 1987)
Oleh karena itu, penilaian dan program belajar dalam kaitan dengan tujuannya bersifat ganda, bukan saja yang dinilai hasil belajarnya, tetapi juga proses belajarnya, bahkan juga bahwa penilaian harus didasarkan pada substansi materi perolehannya dan dampak pengiring perolehannya.
Komponen Keempat
Komponen ini bersifat teknis dan berkenaan dengan persiapan kongkret proses pembelajaran, komposisi guru, pendekatan apa yang digunakan dan fasilitas apa yang tersedia.

Matra Kurikulum Didifirensiasikan
1.       Matra umum
Pengembangan kurikulum pada hakikatnya bertitik tolak pada beberapa ciri yang dilandasi oleh penemuan tentang kekuatan dan kelemahan kurikulum umum dan karenanya kurikulum berdiferensiasi bagi anak berbakat bertitik tolak dari kurikulum umum. Oleh karena itu diseleksi materi-materi yang esensial dari kurikulum umum tersebut.
2.       Matra yang Didifirensiasikan
Matra dari kurikulum berdifensiasi yang kedua ini berkaitan erat dengan ciri khas perkembangan anak berbakat dan merupakan kurikulum yang dikembangkan secara mendalam dan meluas
Kurikulum berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak berbakat dalam menguasai berbagai kemampuan dan kinerja, memberikan kekayaan pengalaman belajar yang berbeda dalam arti kedalaman, atau dalam arti keluasan dan kecepatan.
Sehingga pada anak berbakat akan terjadi kemungkinan loncat kelas. Inilah yang saat ini kami lakukan di Labschool dengan program layanan yang dinamakan Akselerasi.
3.       Matra Subliminal
Matra ini mengandung pengalaman belajar yang terdiri dari interaksi individual antara teman sebaya. Dalam tercipta suasana belajar yang kondusif. Suasana belajar yang kondusif tercipta ketika suasana yang dapat mengundang, melibatkan anak dalam pembelajaran yang mengasyikkan dan banyak yang ditentukan oleh komunikasi dua arah antara pendidik dan peserta didik, tetapi juga banyak bergantung pada personel lainnya, yaitu mereka yang dapat menunjang suasana belajar ini, seperti kepala sekolah, para orang tua dan personel penunjang pendidikan lainnya seperti staf adminitrasi dan lainnya.
4.       Matra Non-Akademis
Matra ini sangat erat kaitannya dengan strategi pembelajaran di sekolah maupun diluar sekolah Artinya kegiatan di luar sekolah dapat menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah. Seperti museum, Bursa efek Indonesia dan lainnya.

Implementasi
Berdasarkan pemikiran Ibu Conny tersebut maka iplementasi di sekolah yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:

1.       Sekolah harus mampu menganalisis kurikulum umum yang ada dalam hal ini Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Analisis yang dilakukan adalah materi-materi yang ada dalam Standar Komptensi dan Kompotensi Dasar. Materi-materi tersebut dipilah-pilah menjadi materi yang paling esensi bagi anak berbakat.
2.       Materi yang telah dipilah dan dipilih tadi kemudian dibuat lebih dalam lagi. Dengan berbagai sumber dan kreatifitas serta inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak berbakat. Termasuk di dalamnya adalah bentuk penilaian dalam kurikulum berdiferensiasi. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan bentuk workshop
3.       Setelah para guru menganalisis dan mendalam kurikulum tersebut maka pihak sekolah mengkompilasikan dan menjadikan kurikulum tersebut kurikulum untuk anak berbakat dalam hal ini adalah untuk program akselerasi.



Tuesday, November 15, 2011

Mampukah kita melawan (produk) China?


Salah satu Negara/bangsa dalam dua dekade ini yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kinerja perekonomiannya adalah China. Penulis ingat saat masih kecil menjelang remaja, menonton sebuah berita di televisi, banyak rakyat China mengalami kelaparan dan kemiskinan. Itu sekitar 20 tahunan lalu.
Namun saat ini China menjadi Negara yang memunyai kekuatan perekonomian yang demikian hebat. Pendapatan domestic bruto mereka naik begitu tajam, diikuti dengan pendapatan perkapita. Nilai ekspor mereka sekali tiga uang, terus meroket. Pada tahun 2009 saja nilai nominal produk domestik bruto atau PDB, salah satu indikator perkembangan ekonomi, mencapai 4,9 triliun dollar AS. Jepang yang saat ini masih tercatat sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah AS mencatat nilai PDB 2009 sebesar 5,1 triliun dollar AS. Sementara PDB AS 14,2 triliun dollar AS dan PDB negara yang tergabung dalam Uni Eropa sebesar 16 triliun dollar AS.
Salah satu tujuan ekspor produk China tentunya Indonesia. Ditambah lagi adanya perjanjian perdagangan ASEAN-China Free trade Area (ACFTA). Dan.. Indonesia telah masuk kedalam ACFTA tersebut.
Membanjirnya produk buatan China memang berdampak terhadap industri lokal. Sudah bukan rahasia umum lagi ketika produk tekstil China membanjiri pasar Tanah Abang, banyak produsen tekstil kita, khususnya di daerah Jawa  gulung tikar. Belum lagi produk-produk elektronik yang terus masuk ke Indonesia. Sepertinya saat ini ekspansi produk China sudah tidak dibendung lagi.
Lalu pertanyaannya adalah mampukah kita menyaingi (baca: melawan) produk China tersebut?
Pertanyaannya tersebut kita bisa jawab dengan sebuah pertanyaan pula; Apa yang tidak ada di Indonesia?
Bicara sumber daya alam, maka Indonesia merupakan salah satu negara yang paling kaya di dunia. Namun sayangnya sumber daya alam tersebut diekplorasi sedemikian rupa untuk kepentingan pribadi dan golongan. Menurut Adam Smit kalau suatu negara hanya mengharapkan sumber daya alamnya untuk di kuras maka dapat berakibat buruk kepada negara tersebut.
Bicara sumber daya manusia, sepertinya kita juga harus mengatakan potensi orang Indonesia sebenarnya sangat baik. Walaupun dalam berbagai survei mengenai indeks sumber daya manusia kita selalu berada diperingkat seratusan. Tapi kita juga tidak dapat menampikan bahwa berapa medali yang kita dapatkan dalam setiap perlombaan olimpiade Internasional. Jadi sumber daya manusia kita sebenarnya berpotensi besar.
Bicara pasar, kita adalah pasar yang profitable. Pasar dengan jumlah konsumen yang besar dan berpotensi untuk mendapatkan keuntungan.
Lalu bagaimana mengenai kualitas produk lokal kita? Memangnya produk China juga berkualitas? Belum tentu.
Keberhasilan China dalam perekonomian menurut kompas dalam laporan wartawannya, setidaknya ada tiga yaitu Pertama, visi dan perencanaan pembangunan jangka panjang yang solid melalui program rencana pembangunan lima tahun yang berkesinambungan. Kedua, menerapkan strategi pengembangan pengetahuan dasar. Ketiga, adanya birokrasi yang kuat dan efektif yang dimotori oleh Partai Komunis China (PKC) sebagai partai yang berkuasa. Satu lagi menurut saya adalah kepastian hukum dalam menjaga perilaku warganya, khususnya pejabat. Sehingga seorang pejabat benar-benar pekerja untuk kepentingan rakyatnya. Mereka tidak berani melakukan tindakan korupsi. Kita sama-sama sudah tahu bahwa di China banyak sekali pejabat yang dihukum mati karena kasus korupsi. Bagaimana dengan Indonesia?
Lalu dengan demikian, optimiskah kita dengan apa yang ada untuk mampu bersaing dengan China atau bahkan dengan negara-negara maju lainnya.
Jawabanya adalah OPTIMIS dengan berbagai syarat tentunya.
Pertama. Dari sisi kualitas sumber manusia. Berikan kesempatan dan dana untuk para pemuda-pemuda yang cerdas untuk mengaktualisasikan dirinya. Tanamkan pula nilai-nilai yang luhur kepada para pemuda untuk dapat menjadi panduan hidupnya dalam berkarya. Implementasi adalah pada dunia pendidikan. Dalam jangka pendek, kita harus menyediakan dana riset kepada orang-orang Indonesia yang berpotensi dan memproduksinya dalam skala massal. Untuk jangka panjang kita harus menyiapkan beasiswa dan menjamin mereka untuk bisa mengabdikan dirinya bagi bangsa. Tentunya kita terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan kita yang mampu memberikan kepada peserta didik ruang untuk kreatifitas dan inovatif.
Kedua. Berikan insentif kepada para pengusaha lokal, khususnya yang berorientasi ekspor. Insentif tersebut dapat berupa pengurangan pajak atau pemberian subsidi. Pastikan juga bahwa mereka tidak dipungut biaya untuk keperluan yang tidak jelas, seperti pungutan biaya angkut atau untuk keperluan politik. Karena hal ini akan membebankan harga produk mereka yang berujung mahalnya produk lokal. Kita harus mengurangi hight cost economy pada setiap unit usaha kita.
Ketiga, debirokratisasi. Sudah bukan hal yang rahasia lagi, bahwa birokrasi kita sangat tidak efisien. Untuk mengurus suatu izin usaha saja kita membutuhkan waktu berbulan-bulan, sementara di China hanya hitungan minggu bahkan hari. Instansi yang harus dilewati pun begitu banyak, dan harus mengeluarkan biaya ini dan itu. Kita harus merevolusi birokrat kita agar benar-benar birokrasi tersebut tidak menghambat perekonomian.
Keempat, pastikan bahwa hukum ditegakkan. Saat ini ilmu ekonomi tidak berjalan sendiri, untuk mengatasi masalah ekonomi dibutuhkan faktor lain yang mendukung. Salah satunya adalah ilmu hukum. Kepastian dan penegakan hukum membuat nyaman para pengusaha khususnya pengusaha dalam negeri. Hukum bukan milik orang perorang atau golongan saja hukum adalah milik semua. Jika ada para pejabat atau pengusaha yang melanggar hukum, maka penegak keadilan harus benar-benar objektif dan adil menghukumnya.