Tuesday, November 15, 2011

Mampukah kita melawan (produk) China?


Salah satu Negara/bangsa dalam dua dekade ini yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kinerja perekonomiannya adalah China. Penulis ingat saat masih kecil menjelang remaja, menonton sebuah berita di televisi, banyak rakyat China mengalami kelaparan dan kemiskinan. Itu sekitar 20 tahunan lalu.
Namun saat ini China menjadi Negara yang memunyai kekuatan perekonomian yang demikian hebat. Pendapatan domestic bruto mereka naik begitu tajam, diikuti dengan pendapatan perkapita. Nilai ekspor mereka sekali tiga uang, terus meroket. Pada tahun 2009 saja nilai nominal produk domestik bruto atau PDB, salah satu indikator perkembangan ekonomi, mencapai 4,9 triliun dollar AS. Jepang yang saat ini masih tercatat sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah AS mencatat nilai PDB 2009 sebesar 5,1 triliun dollar AS. Sementara PDB AS 14,2 triliun dollar AS dan PDB negara yang tergabung dalam Uni Eropa sebesar 16 triliun dollar AS.
Salah satu tujuan ekspor produk China tentunya Indonesia. Ditambah lagi adanya perjanjian perdagangan ASEAN-China Free trade Area (ACFTA). Dan.. Indonesia telah masuk kedalam ACFTA tersebut.
Membanjirnya produk buatan China memang berdampak terhadap industri lokal. Sudah bukan rahasia umum lagi ketika produk tekstil China membanjiri pasar Tanah Abang, banyak produsen tekstil kita, khususnya di daerah Jawa  gulung tikar. Belum lagi produk-produk elektronik yang terus masuk ke Indonesia. Sepertinya saat ini ekspansi produk China sudah tidak dibendung lagi.
Lalu pertanyaannya adalah mampukah kita menyaingi (baca: melawan) produk China tersebut?
Pertanyaannya tersebut kita bisa jawab dengan sebuah pertanyaan pula; Apa yang tidak ada di Indonesia?
Bicara sumber daya alam, maka Indonesia merupakan salah satu negara yang paling kaya di dunia. Namun sayangnya sumber daya alam tersebut diekplorasi sedemikian rupa untuk kepentingan pribadi dan golongan. Menurut Adam Smit kalau suatu negara hanya mengharapkan sumber daya alamnya untuk di kuras maka dapat berakibat buruk kepada negara tersebut.
Bicara sumber daya manusia, sepertinya kita juga harus mengatakan potensi orang Indonesia sebenarnya sangat baik. Walaupun dalam berbagai survei mengenai indeks sumber daya manusia kita selalu berada diperingkat seratusan. Tapi kita juga tidak dapat menampikan bahwa berapa medali yang kita dapatkan dalam setiap perlombaan olimpiade Internasional. Jadi sumber daya manusia kita sebenarnya berpotensi besar.
Bicara pasar, kita adalah pasar yang profitable. Pasar dengan jumlah konsumen yang besar dan berpotensi untuk mendapatkan keuntungan.
Lalu bagaimana mengenai kualitas produk lokal kita? Memangnya produk China juga berkualitas? Belum tentu.
Keberhasilan China dalam perekonomian menurut kompas dalam laporan wartawannya, setidaknya ada tiga yaitu Pertama, visi dan perencanaan pembangunan jangka panjang yang solid melalui program rencana pembangunan lima tahun yang berkesinambungan. Kedua, menerapkan strategi pengembangan pengetahuan dasar. Ketiga, adanya birokrasi yang kuat dan efektif yang dimotori oleh Partai Komunis China (PKC) sebagai partai yang berkuasa. Satu lagi menurut saya adalah kepastian hukum dalam menjaga perilaku warganya, khususnya pejabat. Sehingga seorang pejabat benar-benar pekerja untuk kepentingan rakyatnya. Mereka tidak berani melakukan tindakan korupsi. Kita sama-sama sudah tahu bahwa di China banyak sekali pejabat yang dihukum mati karena kasus korupsi. Bagaimana dengan Indonesia?
Lalu dengan demikian, optimiskah kita dengan apa yang ada untuk mampu bersaing dengan China atau bahkan dengan negara-negara maju lainnya.
Jawabanya adalah OPTIMIS dengan berbagai syarat tentunya.
Pertama. Dari sisi kualitas sumber manusia. Berikan kesempatan dan dana untuk para pemuda-pemuda yang cerdas untuk mengaktualisasikan dirinya. Tanamkan pula nilai-nilai yang luhur kepada para pemuda untuk dapat menjadi panduan hidupnya dalam berkarya. Implementasi adalah pada dunia pendidikan. Dalam jangka pendek, kita harus menyediakan dana riset kepada orang-orang Indonesia yang berpotensi dan memproduksinya dalam skala massal. Untuk jangka panjang kita harus menyiapkan beasiswa dan menjamin mereka untuk bisa mengabdikan dirinya bagi bangsa. Tentunya kita terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan kita yang mampu memberikan kepada peserta didik ruang untuk kreatifitas dan inovatif.
Kedua. Berikan insentif kepada para pengusaha lokal, khususnya yang berorientasi ekspor. Insentif tersebut dapat berupa pengurangan pajak atau pemberian subsidi. Pastikan juga bahwa mereka tidak dipungut biaya untuk keperluan yang tidak jelas, seperti pungutan biaya angkut atau untuk keperluan politik. Karena hal ini akan membebankan harga produk mereka yang berujung mahalnya produk lokal. Kita harus mengurangi hight cost economy pada setiap unit usaha kita.
Ketiga, debirokratisasi. Sudah bukan hal yang rahasia lagi, bahwa birokrasi kita sangat tidak efisien. Untuk mengurus suatu izin usaha saja kita membutuhkan waktu berbulan-bulan, sementara di China hanya hitungan minggu bahkan hari. Instansi yang harus dilewati pun begitu banyak, dan harus mengeluarkan biaya ini dan itu. Kita harus merevolusi birokrat kita agar benar-benar birokrasi tersebut tidak menghambat perekonomian.
Keempat, pastikan bahwa hukum ditegakkan. Saat ini ilmu ekonomi tidak berjalan sendiri, untuk mengatasi masalah ekonomi dibutuhkan faktor lain yang mendukung. Salah satunya adalah ilmu hukum. Kepastian dan penegakan hukum membuat nyaman para pengusaha khususnya pengusaha dalam negeri. Hukum bukan milik orang perorang atau golongan saja hukum adalah milik semua. Jika ada para pejabat atau pengusaha yang melanggar hukum, maka penegak keadilan harus benar-benar objektif dan adil menghukumnya.







No comments:

Post a Comment