Tulisan ini merupakan resume singkat dari buku yang ditulis oleh Ibu Conny R. Semiawan, seorang tokoh pendidikan, mantan Rektor IKIP Jakarta. Buku tersebut berjudul Pengembangan Kurikulum berdiferensiansi. Saat ini penulis tengah menjadi peserta training of trainers yang diadakan oleh Labschool.
Dalam pengembangan kurikulum berdiferensiasi tersebut terdiri dari 4 komponen dan 4 matra. Yang akan dituliskan di bawah ini.
Komponen Pertama
(1) Materi pengalaman belajar yang menumbuhkan kreativitas harus diplih untuk digemukkan dan dipadatkan berdasarkan seleksi materi yang memperhatikan tempo, kesesuaian, kecepatan belajar, kecenderungan peserta didik, serta proses menjalankannya. Seringkali guru memberikan pembelajaran tanpa memperhatikan karakteristik peserta didik, khususnya karakter anak-anak berbakat dalam hal ini anak akselerasi. Oleh karena itu dalam pengembangan kurikulum ini perserta didik harus benar-benar diperhatikan sebagai subjek belajar yang potensial
(2) Assesment harus memberi gambaran tentang profile kemampuan dan kelemahan peserta didik secara menyeluruh, mencakup kemampuan intelektual maupun sifat-sifat kepribadian seseorang. Berbagai bentuk penilaian yang ada perlu dilakukan
Komponen Kedua
Terdiri dari 4 tingkatan;
(1) Pengalaman belajar baru yang diperluas dan/atau diperdalam akan bermakna dalam kaitan dengan sistem tertentu yang hidup dalam masyarakat yang diperoleh dari kurikulum umum dan harus disaturagakan untuk diserap juga oleh anak-anak berbakat. Pengalaman tersebut harus tetap terbuka untuk memberi peluang terhadap pertumbuhan kreativitas melalui materi yang didiferensiasikan.
(2) Pola pilihan materi memperlihatkan kesamaan dan perbedaan dengan kurikulum yang umum berlaku
(3) Tingkat ketiga menunjuk pada perencanaan serta persiapan struktur kurikulum tertentu dan suasana yang kondusif untuk belajar kreatif dalam kaitan dengan perilaku anak yang menjadi sasaran khusus di dalam Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi.
(4) Menunjukkan pada strategi pembelajarannya, karena keseluruhan ciri-ciri anak berbakat berbeda dari satu anak dengan anak lainnya, serta merupakan integrasi dan penorobosan (interpenetrasi) yang mendalam dari ranah afektif, kognitif dan psikomotor. Memperlihatkan pula kepekaanya terhadap berbagai masalah kehidupan yang bersumber dari kesadaran yang digali dari ketidaksadarannya.
Komponen ketiga
Sekumpulan ilmu pengetahuan yang diperoleh tanpa kemampuan peserta didik yang bersangkutan untuk dikelolanya akan merupakan pengetahuan sesaat yang akan mencapai sasaran buntu (Semiawan, C.R. dkk., 1987)
Oleh karena itu, penilaian dan program belajar dalam kaitan dengan tujuannya bersifat ganda, bukan saja yang dinilai hasil belajarnya, tetapi juga proses belajarnya, bahkan juga bahwa penilaian harus didasarkan pada substansi materi perolehannya dan dampak pengiring perolehannya.
Komponen Keempat
Komponen ini bersifat teknis dan berkenaan dengan persiapan kongkret proses pembelajaran, komposisi guru, pendekatan apa yang digunakan dan fasilitas apa yang tersedia.
Matra Kurikulum Didifirensiasikan
1. Matra umum
Pengembangan kurikulum pada hakikatnya bertitik tolak pada beberapa ciri yang dilandasi oleh penemuan tentang kekuatan dan kelemahan kurikulum umum dan karenanya kurikulum berdiferensiasi bagi anak berbakat bertitik tolak dari kurikulum umum. Oleh karena itu diseleksi materi-materi yang esensial dari kurikulum umum tersebut.
2. Matra yang Didifirensiasikan
Matra dari kurikulum berdifensiasi yang kedua ini berkaitan erat dengan ciri khas perkembangan anak berbakat dan merupakan kurikulum yang dikembangkan secara mendalam dan meluas
Kurikulum berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak berbakat dalam menguasai berbagai kemampuan dan kinerja, memberikan kekayaan pengalaman belajar yang berbeda dalam arti kedalaman, atau dalam arti keluasan dan kecepatan.
Sehingga pada anak berbakat akan terjadi kemungkinan loncat kelas. Inilah yang saat ini kami lakukan di Labschool dengan program layanan yang dinamakan Akselerasi.
3. Matra Subliminal
Matra ini mengandung pengalaman belajar yang terdiri dari interaksi individual antara teman sebaya. Dalam tercipta suasana belajar yang kondusif. Suasana belajar yang kondusif tercipta ketika suasana yang dapat mengundang, melibatkan anak dalam pembelajaran yang mengasyikkan dan banyak yang ditentukan oleh komunikasi dua arah antara pendidik dan peserta didik, tetapi juga banyak bergantung pada personel lainnya, yaitu mereka yang dapat menunjang suasana belajar ini, seperti kepala sekolah, para orang tua dan personel penunjang pendidikan lainnya seperti staf adminitrasi dan lainnya.
4. Matra Non-Akademis
Matra ini sangat erat kaitannya dengan strategi pembelajaran di sekolah maupun diluar sekolah Artinya kegiatan di luar sekolah dapat menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah. Seperti museum, Bursa efek Indonesia dan lainnya.
Implementasi
Berdasarkan pemikiran Ibu Conny tersebut maka iplementasi di sekolah yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Sekolah harus mampu menganalisis kurikulum umum yang ada dalam hal ini Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Analisis yang dilakukan adalah materi-materi yang ada dalam Standar Komptensi dan Kompotensi Dasar. Materi-materi tersebut dipilah-pilah menjadi materi yang paling esensi bagi anak berbakat.
2. Materi yang telah dipilah dan dipilih tadi kemudian dibuat lebih dalam lagi. Dengan berbagai sumber dan kreatifitas serta inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak berbakat. Termasuk di dalamnya adalah bentuk penilaian dalam kurikulum berdiferensiasi. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan bentuk workshop
3. Setelah para guru menganalisis dan mendalam kurikulum tersebut maka pihak sekolah mengkompilasikan dan menjadikan kurikulum tersebut kurikulum untuk anak berbakat dalam hal ini adalah untuk program akselerasi.
No comments:
Post a Comment